STUDI KASUS TENTANG PENYAKIT TYPOID DI RSUD BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN
PENGANTAR EPIDEMIOLOGI
STUDI KASUS TENTANG PENYAKIT TYPOID DI RSUD BANJARBARU
KALIMANTAN SELATAN
Asuhan Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,Amd.Hyp,ST,.M.Kes
Disusun Oleh
1.
Afresa Amanda NIM H1E114002
2.
Lianatul
Munjiah NIM H1E114013
3.
Maria Septia
Memorini NIM H1E114017
4.
M. Rinaldy
Kusuma SY NIM H1E114018
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS
TEKNIK
PROGRAM
STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
2015
HALAMAN PENGESAHAN
|
||
Judul Tugas
Besar :
|
|
|
NamaMahasiswa
:
|
Afresa
Amanda
Lianatul Munjiah
Maria Septia Memorini
M. Rinaldy Kusuma SY
|
|
Nomor Induk Mahasiswa :
|
H1E114002
H1E114013
H1E114917
H1E114018
|
|
Program
Studi :
|
Teknik Lingkungan
|
|
Peminatan :
|
Epidemiologi
|
|
Disahkan
Oleh
|
||
DosenPembimbing
|
DosenPembimbing
|
|
Prof. Dr.QomariyatusS, Amd, Hyp.,ST.,Mkes
|
Nova Annisa, S.Si.Ms
|
|
Nip. 19780420 20050 1 00
|
||
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia kepada umat-Nya. Atas berkat-Nya pula penulis dapat menyusun
dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengantar Epidemiologi” ini tepat pada
waktunya. Adapun penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
Epidemiologi.
Tersusunnya tugas
ini, tidak terlepas dari dukungan dan bantuan serta bimbingan dari berbagai
pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih,
kepada :
1.
Kedua orang tua
dan keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan dalam pengerjaan makalah
ini.
2.
Bapak Prof.
Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc selaku Rektor Universitas Lambung Mangkurat.
3.
Bapak Dr. Ing.
Yulian Firmana Arifin, ST. MT selaku Dekan
Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat..
4.
Bapak Dr. Rony
Ridwan ST.MT selaku kepala prodi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas
Lambung Mangkurat.
5.
Ibu Dr. Hj.
Endah Labati Silapurna, MH, Kes selaku direktur dan seluruh staf Rumah Sakit
Umum Daerah Banjarbaru.
6. Ibu Prof. Dr. Qomariyatus
Sholihah,Amd.Hyp,ST,.M.Kes dan Nova Annisa, S.Si.Ms selaku dosen mata kuliah
epidemiologi
7.
Semua Pihak
yang telah membantu Penulisan makalah ini.
Kami menyadari
bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan. Oleh karena itu, kami selaku tim
penulis sekaligus penyusun mengharapkan kritik, saran, bimbingan serta nasihat
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Besar harapan kami semoga makalah
ini bermanfaat bagi kami tersendiri serta bagi pembaca dalam meningkatkan
pengetahuan dan prestasi belajar.
Banjarbaru, November 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan Antara Epidemiologi
Deskriptif Dan Analitik........................................... 7
Tabel 3.1 5 Besar Penyakit Yang Banyak Diderita
Pasien RSUD Banjarbaru............................ 31
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.2 Klasifikasi
Penyakit............................................................................................... 8
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Wawancara Dengan Keluarga Pasien....................................................................... 39
Gambar 2 Wawancara Dengan
Pasien Penderita TypoidBapak Ariko..................................... 39
Gambar 3 Observasi Data Di RSUD
Banjarbaru dengan Bapak Apid Widiarta, Amd, Pk......... 40
DAFTAR GRAFIK
Grafik 3. 1 Tingkat Penderita Penyakit
demam Typoid Di RSUD Banjarbaru.......................... 32
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Lapangan..................................................................................... 39
Lampiran 2.
Soal ................................................................................................................... 41
RINGKASAN
Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari hal – hal yang
berhubungan dengan masyarakat. Di dalam kesehatan ilmu Epidemiologi sangatlah
penting karena didalamnya terdapat peran dan tindakan yang harus dilakukan untuk
pencegahan masalah kesehatan tersebut. Evironmental epidemiology atau
epidemiologi lingkungan mempelajari dampak potensial dari perubahan lingkungan
secara global terhadap kesehatan masyarakat. Epidemiologi
mempelajari tentang timbulnya suatu peyakit atau fenomena kesehatan,penyebab
timbulnya penyakit,faktor yang memengaruhi, bagaimana penyebarannya dan
penanggulangannya.
Epidemiologi
demam typoid yang mencakup tentang frekuensi, distribusi dan
determinan penyakit berdasarkan atribut & variabel menurut segitiga
epidemiologi (orang, Tempat, danwaktu). Pasien penderita typoid yang menjalani rawat inap di RSUD Banjarbaru selalu
ada setiap bulan dan merupakan penyakit dengan jumlah penderita terbanyak jika
di jumlahkan dibandingkan dengan penyakit lain yang berhubungan dengan
lingkungan selang waktu januari sampai dengan agustus 2015.
BAB I
PENDAHULUAN
Lingkungan yang bersih adalah
lingkungan yang sehat, karena lingkungan merupakan
suatu tempat yang umumya terdapat berbagai jenis populasi maka dengan berbagai perbedaan
cara hidup akan menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyebaran penyakit.
Dengan menerapkan konsep epidemiologi yang merupakan salah satu disiplin ilmu dalam
ilmu kesehatan, maka suatu masalah kesehatan dapat diketahui penyebab dan
penanggulangannya. Epidemiologi
adalah ilmu yang mempelajari berbagai faktor dan kondisi yang mempengaruhi
suatu kejadian dan penyebaran keadaan sehat, sakit, kerusakan jaringan,
kelumpuhan, serta kematian pada masyarakat. Dalam perkembangannya, epidemiologi telah
banyak berkecimpung dalam penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Epidemiologi mempelajari determinan, distribusi dan frekuensi suatu penyakit
dan masalah-masalah kesehatan lainnya (Slamet,
2011).
Berbagai
macam penyakit infeksi bakteri yang ada di wilayah Indonesia menjadi
permasalahan terbesar yang diderita oleh masyarakat terutama penyakit demam
typoid. Permasalahan penyakit ini juga dirasakan oleh masyarakat sekitar Kota
Banjarbaru Kalimantan Selatan. Dan berdasarkan data kasus yang diperoleh dari
rekam medik di RSUD Banjarbaru masalah penyakit terbesar dengan jumlah
penderita tertinggi selama 8 bulan terakhir yaitu diantara bulan januari -
agustus pada tahun 2015 adalah penyakit demam typoid, sehingga penulis tertarik
untuk lebih mendalami dan mengidentifikasi tentang epidemiologi demam typoid
tersebut. Demam typhoid merupakan infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
Salmonella typhi dan adanya pengaruh dari
lingkungan yang kotor dan tingkat perilaku hidup bersih sehat sangat kurang. Oleh karena itu
dalam makalah ini penulis membahas tentang epidemiologi demam typoid yang
mencakup tentang frekuensi, distribusi dan determinan penyakit berdasarkan atribut &
variabel menurut segitiga epidemiologi (orang, Tempat, dan Waktu).Untuk mengatasi permasalahan tersebut secara lebih mendalam yang terkait
dengan epidemiologi penyakit demam typoid maka dapat digunakan suatu studi
epidemiologi yaitu menggunakan studi pendekatan epidemiologi deskriptif yang
bertujuan untuk menggambarkan masalah kesehatan yang terdapat di dalam
masyarakat serta bagaimana penanggulangannya untuk masalah suatu penyakit (Slamet,2011).
Berdasarkan
latar belakang makalah ini, maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut
:
1.
Apakah definisi
dari epidemiologi ?
2.
Bagaimana kosep
dari epidemiologi ?
3.
Apa itu definisi dari penyakit demam typoid?
4.
Bagaimana konsep terjadinya penyakit demam
typoid ?
5.
Apa saja upaya pencegahan yang efektif untuk
memberantas penyakit demam typoid di lingkungan masyarakat ?
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1.
Untuk mengetahui definisi
dari epidemiologi.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
konsep dari epidemiologi.
3.
Untuk mengetahui definisi dari penyakit demam
typoid.
4.
Untuk mengetahui konsep terjadinya penyakit
demam typoid.
5.
Untuk mengetahui upaya pencegahan yang efektif
untuk memberantas penyakit demam typoid di lingkungan masyarakat.
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari
penulisan makalah yang berjudul “” yaitu sebagai berikut:
1.
Manfaat bagi Penulis
Adanya penulisan makalah ini, membuat penulis
mendapat pengalaman dan ilmu pengetahuan tentang epidemiologi demam
typoid.
2.
Manfaat Umum
Makalah ini dapat dijadikan bahan
referensi dan sumber informasi bagi pembaca, terutama bagi kalangan
pelajar dan yang lainnya. Pembaca juga mendapatkan informasi yang berhubungan
dengan judul makalah ini.
Metode penelitian yang
dilaksanakan adalah studi kasus epidemiologi secara deskriptif dengan tujuan
menggambarkan masalah kesehatan atau fenomena kesehatan yang terjadi dilingkungan
masyarakat secara umum. Metode ini dilaksanakan oleh penulis di Rumah Sakit
Umum Daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia. Dalam mencari frekuensi
penyakit typoid di rumah sakit tersebut, dilakukan pengumpulan data dari rekam
medik selama rentan waktu januari sampai dengan agustus 2015 dan pengajuan
pertanyaan yang berkaitan dengan epidemiologi deskriptif. Pertanyaan tersebut
adalah sebagai berikut :
Siapa yang
terkena?
Bilamana
hal tersebut terjadi?
Bagaimana
terjadinya?
Di mana
kejadian tersebut?
Berapa jumlah orang yang terkena?
Bagaimana
penyebarannya?
Bagaimana ciri-ciri orang yang
terkena
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Arti Epidemiologi
Penelitian - penelitian epidemiologiyang banyak dilakukan di
Indonesia menunjukkan bahwa penyakit menular masihmerupakan penyebab kematian
yang penting di Indonesia. Kurangnya sarana airbersih, sempitnya lahan tempat
tinggal keluarga, kebiasaan makan dengan tanganyang tidak dicuci lebih dulu,
pemakaian ulang daun-daun dan pembungkusmakanan yang sudah dibuang ke tempat
sampah, sayur-sayur yang dimakanmentah, penggunaan air sungai untuk berbagai kebutuhan
hidup (mandi, mencucibahan makanan, mencuci pakaian, berkumur, gosok gigi, yang
juga digunakan sebagai kakus), dan penggunaan tinja untuk pupuk sayuran,
meningkatkan penyebaran penyakit menular yang menyerang sistem pencernaan
(Soedarto, 2009: 2).
Demam tifoid atau thypus abdominalis
adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan
gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan
kesadaran. Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus
(Akhsin Zulkoni, 2010: 42).
Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella
typhosa dan hanya didapatkan pada manusia. Penularan penyakit ini hampir
selalu terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.Kata
epidemiologi berasal dari bahasa yunani, epi berarti pada/tentang, demos
berarti penduduk, dan logos berarti ilmu (Wahyudin, 2009).
Epidemiologi adalah ilmu yang
mempelajari berbagai faktor dan kondisi yang memengaruhi suatu kejadian dan
penyebaran keadaan sehat, sakit, kerusakan jaringan, kelumpuhan, serta kematian
pada masyarakat.Beberapa pengamat epidemiologi mengemukakan beberapa definisi,
yakni sebagai berikut :
John Snow yang pada tahun 1848 – 1853
menyelidiki timbulnya kolera di London yang pada kesimpulannya mengaitkannya
dengan timbulnya air kotor.Edwin Chadwick pada tahun 1842 meyelidiki angka
kematian pada berbagai golongan umur penduduk di Liverpool Inggris sehubungan dengan keadaan sanitasi
yang buruk pada saat dimulainya gencaran industrialisasi. Dari pengamatannya
diungkapkan bahwa lebih dari separuh balita golongan pekerja meninggal.Prof.
Windslow sebagai seorang tokoh kesehatan masyarakat yang merumuskan definisi Public Health, menekankan dasar ilmu ini
pada lingkungan fisik yang ia sebut kemudian sebagai sanitation untuk
dikembangkan selanjutnya dalam ilmu baru terkait, yaitu preventive medicine. H.R.
Leavell dan E.G.C . Clark medefiniskan epidemiologi sebagai suatu ilmu yang
mempelajari berbgai faktor dan kondisi yang memengaruhi suatu kejadian dan
penyebaran keadaan sehat, sakit, kerusakan jaringan, kelumpuhan serta kematian
pada masyarakat.(Slamet, 2011).
Epidemiologi
jika ditinjau dari berbagai aspek berdasarkan tujuannya memiliki pengertian
sebagai berikut, yaitu :
1.
Aspek Akademik
Epidemiologi diartikan sebagai analisis data kesehatan,
sosial ekonomi, dan kecenderungan yang terjadi untuk mengadakan identifikasi dan
interpretasi perubahan keadaan kesehatan yang terjadi atau akan terjadi di
masyarakat umum atau kelompok penduduk tertentu.
2.
Aspek praktis
Epidemiologi diartikan sebagaiilmu yang ditujukan pada
upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menimpa individu, kelompok, atau
masyarakat umum. Penyebab penyakit tidak harus diketahui secara pasti,
diutamakan pada cara penularan, infektivitas, menghindari agen yang diduga
sebagai penyebab, toksin atau lingkungan, dan membentuk kekebalan untuk menjami
kesehatan masyarakat.
3.
Aspek klinis
Epidemiologi diartikan sebagai usaha untuk mendeteksi
secara dini perubahaninsidensi atau prevalensi melalui penemuan klinis atau
laboratoris pada awal kejadian atau timbulnya penyakit baru.
4.
Aspek administratif
Epidemiologi diartikan sebagai suatu usaha untuk
mengetahui status kesehatan masyarakat disuatu wilayah atau negara agar dapat
diberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
(Eko, 2003).
Epidemiologi pada umumnya mempelajari
bagaimana timbulnya suatu peyakit atau fenomena kesehatan yang terjadi disuatu
lingkungan masyarakat, selanjutnya diperlukan data – data yang menjadi penyebab
maupun faktor timbulnya fenomena yang terjadi dimasyarakat tersebut. Setelah
mengetahui penyebab maupun faktor, perlu juga diketahui bagaimana cara fenomena
kesehatan tersebut dapat menyebar dilingkungan. Cara yang selanjutnya perlu
dilakukan adalah bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut dengan
pendekatan teknologi atau sosialisasi tentang pencegahan fenomena kesehatan
yang terjadi.
Timbulnya suatu penyakit ataupun
fenomena kesehatan di suatu lingkungan masyarakat biasanya dikaitkan dengan
apakah faktor agent dalam keseimbangan gordon yang menyangkut trias agent host
dan environment memenuhi stadar keseimbangan atau ada faktor lain yang merusak
kesetimbangan gordon tersebut. Masalah pemecahan ataupun penanggulangan
nantinya berkaitan dengan sub bahasan lebih lajut terhadap berbagai
pemberantasan penyakit atau Communicable Disease Cotrole (CDC).
Pokok – pokok pengertian epidemiologi
banyak bergeser dari pengertian awal epidemiologi yang ditujukan semula terhadap
penyakit infeksi menular.. Terhadap perbedaan antara epidemiologi tradisional
dengan epidemiologi modern.Perubahan konsep epidemiologi berkembang sejalan
dengan perkembangan the body of knowledge of health and disease atau
pengetahuan tubuh, kesehatan dan penyakit serta perkembangan konsep sehat dan
sakit itu sendiri. Semua epidemiologi hanya dikaitkan dengan peyakit infeksi
yang menular. Namun kini dalam epidemiologi modern terdapat jangkauan yang
makin luas.
Didasarkan pada pergeseran pengertian
epidemiologi, dapat diketahui bahwa hal- hal yang meliputi epidemiologi modern adalah
sebagai berikut :
1.
Jangkauan baik
terhadap penyakit infeksi maupun nonifeksi menular dan yang bukan menular.
2.
Jangkauan
epidemiologi modern meliputi kondisi maupun
fenomena kesehatan lain yang tidak berkaitan langsung dengan penyakit.Untuk
sasaran data penyakit, indikator yang diutamakan adalah meliputi morbidilitas
(kesakitan) dan mortalitas (kematian)
3.
Kerangka
disiplin menggunakan comprehensive approach, baik meliputi major disciplies maupun didukung oleh auxilliary disciplines.
Menurut metodenya epidemiologi
dibedakan sebagai epidemiologi deskriptif, analitik, dan epidemiologi
lingkungan. Epidemiologi lingkungan sendiri merupakan metode yang timbul akibat
adanya perkembangan iptek dan digolongkan sebagai metode baru.
Perbedaan
antara epidemiologi deskriptif dan analitik dapat dikemukakan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Perbedaan antara epidemiologi deskriptif dan analitik
Deskritif
|
Analitik
|
1.
Pemaparan
data tentang mortalitas dan morbalitas penyakit dan data kondisi kesehatan
lain.
2.
Pemaparan
data dalam bentuk tabulasi yang tersusun secara statistis.
3.
Kompilasi
data tabulasi menurut berbagai variabel:
·
Man (groups
of men)
·
Place
·
Time
4.
Mengadakan
analisis tabulasi tanpa uji
inferensial dan tanpa membahas hubungan sebab-akibat. |
1.
Idem,
meliputi keseluruhan data karakteristik deskriptif, ditambah karakteristik
analitik pada butir-butir berikut.
2.
Mengadakan
berbagai penelitian menurut metode epidemiologi seperti kohort, case control,
screening test, dan lai-lain.
3.
Mengadakan
analisis dan uji inferensial dari data yang teliti.
4.
Melakukan
analisis untuk mencari korelasi sebab-akibat.
5.
Mengembangkan
pengetahuan dan prosedur penanganan masalah letupan dan endemisitas penyakit
dengan cara-cara yang baru dan lebih operasional.
|
Sumber
: Slamet, 2011. Dasar-Dasar Epidemiologi.
Bagan 2.2
Klasifikasi Penyakit
Klasifikasi
Penyakit (P)
|
P. INFEKSI
|
P.I MENULAR
Contoh :
- Dipteri
- TBC
- Typhus
abdominalis
- Hepatitis
|
P.I NON – MENULAR
Contoh :
- Tetanus
- Streptococcen
- Stafilococcen
|
P.NON-INFEKSI (NI)
-
Nutritional disease
-Nutritional
related
- P.
Metabolisme
- P.
Geriatri
- P.
Alkoholisme
- P.
Karsinogenik
- Trauma
accidental
- P.
Kardiovaskular
- P.
Kejiwaan (stres)
- P.
Karena pecermaran
|
Sumber :
Slamet, 2011. Dasar-Dasar Epidemiologi.
Epidemiologi memiliki berbagai macam bentuk studi guna
membantu memahami tentang epidemiologi lebih mendalam dan menyelesaikan
masalah-masalah terkait epidemiologi.Studi epidemiologi dapat diklasifikasikan
sebagai studi eksperimental ataupun studi observasi.
Secara sederhana, studi
epidemiologi menurut pembagiannya mempunyai arti sebagai berikut :
1.
Epidemiologi deskriptif
Epidemiologi deskriptif merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk
menggambarkan masalah kesehatan yang terdapat di dalam masyarakat dengan
menentukan frekuensi, distribusi dan determinan penyakit berdasarkan atribut
& variabel menurut segitiga epidemiologi (orang, Tempat, dan Waktu).
Epidemiologi deskriptif umumnya
dilaksanakan jika tersedia sedikit informasi yang diketahui mengenai kejadian,
riwayat alamiah dan faktor yang berhubungan dengan penyakit.
2.
Epidemiologi analitik
Epidemologi Analitik merupakan penelitian yang bertujuan
menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit, memprediksikan kejadian
penyakit dan memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk
pengendalian penyakit. Epidemiologi analitik dibagi menjadi dua bagian yakni
sebagai berikut :
a.
Non eksperimental:
-
Studi kohort
-
Studi kasus
kontrol/case control study/studi retrospektif.
-
Studi ekologik.
b.
Eksperimental.
Cross-Sectional Study (Studi Potong Lintang) merupakan
studi yang mempelajari prevalensi, distribusi maupun hubungan penyakit dan
paparan dengan mengamati status paparan, penyakit outcome lain secara serentak
pada individu-individu dari suatu populasi pada suatu waktu. Studi ini disebut
juga sebagai studi prevalensi atau survei, merupakan studi sederhana yang
sering dilakukan. Karakter dari Cross-Sectional Study yaitu status paparan dan
penyakit diukur pada saat yang sama.
Cross-Sectional Study
atau juga disebut Studi Potong Lintang mempunyai 2 jenis studi, yaitu:
1.
Studi potong lintang Deskriptif : meneliti prevalensi penyakit , paparan atau
keduanya, pada suatu populasi tertentu.
2.
Studi potong lintang analitik : mengumpulkan data prevalensi paparan dan
penyakit untuk tujuan perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok
terpapar dan kelompok tak terpapar, dalam rangka meneliti hubungan antara
paparan dan penyakit.
3.
Epidemiologi
Lingkungan
Umumnya, Epidemiologi lingkungan mempelajari tentang dampak potensial dari
perubahan lingkungan secara global terhadap kesehatan masyarakat, yang di
akibatkan oleh perubahan global temperatur yag meningkat, tipisnya lapisan ozon
karena meningkatnya gas rumah kaca, radiasi ultraviolet dari matahari yang
mampu menembus lapisan-lapisan udara ke permukaan bumi,presipitasi asam dari
udara ke permukaan bumi serta perubahan kondisi lingkungan akibat dinamika
kependudukan.
2.2 Konsep Epidemiologi
Kejadian
penyakit merupakan inti permasalahan kesehatan masyarakat yang harus dicegah
guna menampilkan wilayah yang sehat dan negara yang kuat. Kejadian penyakit
merupakan fenomena yang bersandar pada basis wilayah yang mencakup ekosistem
dalam dimensi ruang dan waktuTulisan. Asumsi dasar yang dianut adalah bahwa
keberhasilan mengendalikan faktor risiko dan kejadian penyakit akan mampu
meningkatkan dan memelihara kualitas kehidup masyarakat.
Undang-undang No.
9/1960 yang berisi tentang pokok- pokok kesehatan, pasal 2 dinyatakan : yang
dimaksud dengan kesehatan ialah meliputi kesehatan badan, rohani (mental) dan
sosial, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Undang-undang RI No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 1, dikatakan bahwa
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Ruang lingkup epidemiologi dalam masalah
kesehatan dapat meliputi etiologi yang berkaitan dengan kegiatan
mengidentifikasi penyebab penyakit dan masalah kesehatan lainnya, efikasi
berkaitan dengan efek atau daya optimal yang dapat diperoleh dari adanya
intervensi kesehatan, efektivitas atau besarnya hasil yang dapat diperoleh dari
suatu tindakan (pengetahuan atau intervensi) dan besarnya perbedaan dari suatu
tindakan yang satu dengan yang lainnya, efisiensi yang melihat pengaruh yang
dapat diperoleh berdasarkan besarnya biaya yang diberikan, evaluasi tentang penilaian
secara keseluruhan keberhasilan suatu pengobatan atau program kesehatan
masyarakat, serta edukasi mengenai peningkatan pengetahuan kesehatan masyarakat
sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit.(Bustan, 2002)
Bentuk dan jenis kegiatan dalam epidemiologi
saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga tidak jarang dijumpai
bentuk kegiatan yang tumpang tindih. Ruang lingkup epidemiologi meliputi subjek
dan objek yang menjadi masalah kesehatan. Awalnya subjek dan objek masalah
kesehatan hanya penyakit infeksi dan menular namun timbulnya penyakit
degenaratif mulai marak dipelajari dan sekarang banyak digunakan pada
masalah-masalah kesehatan yang bukan penyakit, sehingga dikenal dengan
epidemiologi penyakit tidak menular.Masalah kesehatan yang dimaksud adalah
masalah kesehatan yang ditemukan pada sekelompok populasi/manusia, sehingga
terbagi menjadi epidemiologi komunitas (kependudukan, lingkungan, gizi
masyarakat, dll) dan epidemiologi klinis (pengelolaan layanan kesehatan,
kesehatan jiwa, dll). Merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan dapat
dimanfaatkan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah tersebut.
(Wahyudin, 2009).
Penelitian Epidemiologis memiliki
peranan dalam kemajuan ilmu kedokteran karena studi epidemiologi dapat digunakan
untuk mengungkapkan penyebab penyakit, kemudian meneliti hubungan sebab akibat
antara timbulnya penyakit dengan determinan atau perbandingan yang
mempengaruhinya, meneliti perjalanan penyakit alamiah, mengembangkan indeks
deskriptif untuk menyatakan tinggi rendahnya insidensi, penemuan berbagai
penyakit, menentukan hubungan antara rokok dengan penyakit jantung koroner,
karsinoma paru-paru dan hipertensi, hubungan antar lingkungan yang mempengaruhi
misalnya antara air dan makanan dengan penyakit yang ditimbulkan, serta hubungan
antara penyakit herediter, seperti hemofilia dan sickle cell anemia dengan ras
atau etnik tertentu.(Murthi, 2003)
Manusia (person) tempat (place) dan waktu (time) dikelompokan kedalam variabel epidemiologi . Person meliputi perbedaan sifat/karakteristik individu secara tidak
langsung memberikan perbedaan sifat/keterpaparan, yakni faktor genetik bersifat
tetap,seperti : jenis kelamin, ras, data kelahiran, dsb.Faktor biologik berhubungan dengan
kehidupan biologik, seperti : umur, status gizi,kehamilan, dsb.Faktor
Perilaku
berpengaruh secara individu, seperti: adat istiadat, mobilitas, dsb.Faktor Sosial Ekonomi seperti pekerjaan, status perkawinan, pendidikan, daerah tempat tinggal.
Tempat atau place meliputi pengetahuan distribusi geografis suatu penyakit
berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan
etologi penyakit.Menganalisa
hubungan penyakit dengan tempat diharapkan
memperhatikan bagaimana keadaan penduduk setempat dan sifat karakteristiknya, apakah
penyakit berhubungan langsung dengan tempat,angka kesakitan tinggi pada semua
golongan umur, apakah penyakit yang diderita didaerah tersebut juga terjadi
didaerah lain,apakah penyakit tersebut hanya terjadi pada manusia saja atau
menyerang hewan pada lingkungan tersebut.
Waktu atau time meliputi perubahan-perubahan penyakit
menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis, yaitu
dengan adanya faktor penyebab penyakit pada waktu tertentu, perubahan komposisi dan jumlah penduduk
menurut waktu, perubahan
komposisi lingkungan menurut waktu (lingk. Fisik, biologi dan sosial ekonomi), perubahan
kriteria dan alat diagnosa dari waktu ke waktu, serta perubahan pola penyakit karena usaha pencegahan dan
penanggulangan serta perubahan lainnya dari waktu ke waktu.
Langkah yang dapat dilakukan utuk
mengetahui faktor –faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan adalah pertama
yakni mempelajari hubungan antara timbulnya penyakit pada masing-masing
kelompok penduduk terhadap faktor yang ada, selajutnya menyusun hipotesa atau
perkiraan yang kemudian hipotesa diuji untuk membuktikannya berdasarkan
tinjauan dan terakhir menarik kesimpulan dari masalah yang terjadi berdasarkan
pembuktian. (Effendy, 1988)
Epidemiologi diharapkan berperan dalam
bidang kesehatan masyarakat untuk memecahkan suatu masalah kesehatan atau
fenomena yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan untuk :
1.
Mengidentifikasi
faktor – faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah kesehatan
dalam masyarakat.
2.
Meyediakan data
yang diperlukan untuk perencanaa kesehatan dan pengambilan keputusan.
3.
Membantu
melakuka evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.
4.
Mengembangkan
metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk
mengatasi atau menanggulanginya.
5.
Mengarahkan
interfensi yag diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan.
Dalam melakukan
peranannya, epidemiologi tidak dapat melepaskan diri dalam keterkaitannya
dengan bidang-bidang disiplin kesehatan masyarakat lainnya seperti administrasi
kesehatan masyarakat, biostatistik, kesehatan lingkungan, dan pendidikan
kesehatan / ilmu perilaku . Misalnya, peranan epidemiologi dalam proses
perencanaan kesehatan. Tampak bahwa epidemiologi dapat dipergunakan dalam
proses perencanaan yang meliputu idetifikasi masalah memilih prioritas,
menyusun objektif, menereangkan kegiatan, koordinasi dan evaluasi. (Bustan,
2002)
Dalam tulisannya
yang berjudul “Air, Water, and Places”, Hippocrates menekankan pentingnya
menentukan pengaruh berbagai faktor lingkungan dan kebiasaan hidup terhadap
timbulnya penyakit. Dengan kata lain, beliau telah menghubungkan timbulnya
penyakit dengan faktor lingkungan baik lingkungan fisik maupun sosial namun dalam teori tidak dijelaskan bagaimana
kedudukan manusia dalam interaksi tersebut, serta tidak dijelaskan tentang
faktor lingkungan bagaimana yang dapat menimbulkan penyakit. (Dr. Eko Budiarto, SKM)
John Bordon
mengemukakan bahwa model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga
komponen penyakit yakni manusia atau host, penyebab atau agen dan lingkungan
atau environment. Model ini menekankan perlunya analis dan pemahaman
masing-masing komponen dalam memprediksi penyakit. Penyakit dapat terjadi
dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara ketiga komponen didalam model
segitiga tersebut.
Epidemiologi tidak
dapat berdiri sendiri karena timbulnya penyakit berhubugan dengan
faktor – faktor yag ada dalam host, agent dan enviroment. Untuk
memperdalam pengetahuan terhadap ketiga faktor ini epidemiologi perlu bantuan
kerjasama berbagai disiplin ilmu lainnya. Dalam faktor host, perlu penghetahuan
tentang tubuh manusia ( fisik dan mental ) dengan memperhatikan keadaan
fisiologiserta keadaan organ tubuh . Dalam faktor agen perlu pegetahuan tentang
sifat – sifat agen penyebab terjadiya penyakit, yang memperhatikan tentang sifat
fisik, sifat biologis, sifat kimia,lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta lingkungan
ekonomi. Konsep epidemiologi tentang penularan penyakit yang berhubungan dan
mempengaruhi segitiga epidemiologi antara lain adalah benda tak hidup (fomite),
vektor, reservoir dan cariier.
Dengan demikian tampak bahwa sebagai
ilmu yang berkembang epidemiologi sangat terbuka untuk menerima masukan dari
disiplin ilmu lainnya. Akibatnya, epidemiologi dapat bergandengan tangan dengan
berbagai disiplin ilmu bahkan dalam aplikasinya. Epidemiologi lebih merasa
sempurna bila bersama denngan ilmu lainnya. Misalnya dlam penerapan
epidemiologi di klinik dikenal adanya Epidemiologi klinik. Dan dengan
Epidemiologi Klinik tampak epidemiologi tampak berkembang kemampuan
metodologiknya dengan mendapat masukan dari berbagai ilmu-ilmu klinik dalam
dunia kedokteran. (Bustan, 2002)
Proses mempelajari serangkaian
peristiwa yang menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) penyakit dikomunitas
melibatkan pengembangan hubungan sebab – akibat (kausal) yang menghasilkan kesimpulan
yang digunakan untuk memastikan bagaimana lingkungan yang berbeda berhubungan
satu sama lain dan bagaimana kejadian tersebut bisa berhubungan.misalnya saja
bagaimana pajanan tertentu.
Lingkungan merupakan faktor penunjang
terjadinya penyakit. Faktor ini disebut “faktor ekstrinsik”. Faktor lingkungan
dapat berupa lingkunga fisik, lingkungan biologis atau lingkungan sosial
ekonomi.(Eko, 2002).
Faktor-faktor lingkungan yang dapat
memegaruhi atau memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat yang secara
garis besar meliputi 5 faktor, yakni :
1.
Faktor fisik
Faktor fisik
meliputi bising, cuaca atau iklim, radiasi, dan penerangan serta kondisi
ergonomi.
2.
Faktor kimiawi
Faktor kimiawi
meliputi khususnya limbah buanga beracun dan berbahaya.
3.
Faktor biologi
Faktor biologi
meliputi bakteri, virus dan parasit.
4.
Faktor
psikososial
Faktor
psikososial meliputi berbagai situasi gangguan yang dapat membahayakan seperti
kecepatan suatu proses, pengaruh alkohol dan obat-obatan.
Di tengah
kecenderungan meningkatnya penyakit akibat pola perilaku gaya hidup yang tidak
sehat instabilities lingkungan yang tidak ramah, tuntutan masyarakat atas
layanan kesehatan yang layak terus meningkat. Hal ini berjalan seiring dengan
berjalannya daya dukung, kebijakan , dan berkepihakan pemerintah terhadap
kepentingan masyarakat.
Perubahan lingkungan
yang menyebabkan perubahan sistem penyangga kehidupan dan juga kesehatan
manusia diantaranya bersumber dari
·
Aktivitas manusia
Terutama pembangunan industri, transportasi dan pemukiman menghasilkan
limbah yang menurunkan kualitas lingkungan
w Aktivitas Alam
Letusan
gunung berapi, banjir, badai, gempa bumi merubah kualitas air, udara, tanah,
makanan, vektor atau manusia sendiri
·
Komponen lingkungan bertindak sebagai
media atau perantara terjadinya penyakit di masyarakat
(Slamet, 2011)
Penyakit dari sudut epidemiologi
digambarkan sebagai mal-adjusment atau ketidakmampuan manusia untuk
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dan merupakan fenomena sosial dimana
penyakit dapat timbul setiap saat pada seluruh bagian masyarakat di atas
permukaan bumi ini tanpa ada pengecualian.
Apabila Epidemiologi dapat dipahami dan diterapkan dengan
baik, akan diperoleh berbagai manfaat yang jika disederhanakan adalah sebagai
berikut :
1. Membantu Pekerjaan Administrasi Kesehatan.
Membantu pekerjaan dalam Perencanaan ( Planning ) dari
pelayanan kesehatan, Pemantauan ( Monitoring ) dan Penilaian ( Evaluation )
suatu upaya kesehatan.
2. Dapat Menerangkan Penyebab Suatu Masalah Kesehatan.
Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, maka
dapat disusun langkah – langkah penaggulangan selanjutnya, baik yang bersifat
pencegahan ataupun yang bersifat pengobatan.
3. Dapat Menerangkan Perkembangan Alamiah Suatu Penyakit.
Pengetahuan tentang perkembangan alamiah ini amat penting
dalam menggambarkan perjalanan suatu penyakit. Dengan pengetahuan tersebut
dapat dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan perjalanan penyakit
sedemikian rupa sehingga penyakit tidak sampai berkelanjutan. Manfaat / peranan
Epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah
melalui pemanfaatan keterangan tentang frekwensi dan penyebaran penyakit
terutama penyebaran penyakit menurut waktu. Dengan diketahuinya waktu muncul
dan berakhirnya suatu penyakit, maka dapatlah diperkirakan perkembangan
penyakit tersebut.
4. Dapat Menerangkan Keadaan Suatu Masalah Kesehatan.
Karena Epidemiologi mempelajari tentang frekwensi dan
penyebaran masalah kesehatan, maka akan diperoleh keterangan tentang keadaan
masalah kesehatan tersebut.
Indonesia merupakan negara endemik
demam typoid. Diperkirakan bahwa terdapat 800 penderita per 100.000 penduduk
setiap tahun yang ditemukan sepanjang tahun. Penyakit initersebar diseluruh
wilayah dengan insiden yang tidak terlalu berbeda jauh antar daerah. Serangan
penyakit lebih bersifat sporadis dan bukan endemik. Suatu daerah terjadi kasus
yang terpencar – pencar dan tidak mengelompok. (Dr. Widoyono, 2011)
Menurut
Simanjuntak (1990) Demam tifoid merupakan salah satu masalah kesehatan yang
sedang berkembang di Indonesia, karena penyakit ini dapat menimbulkan berbagai
komplikasi yang merugikan berupa perdarahan dan perforasi usus yang tidak
jarang berakhir dengan kematian dari penderita. Penyakit ini berkaitan erat
dengan adanya kepadatan penduduk, urbanisasi, sanitasi lingkungan dan sumber
air bersih serta standar kehidupan dan kebersihan yang rendah. Biasanya angka
kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan dengan daerah yang berhawa
dingin (Rustam, 2012).
Demam
tifoid merupakan penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
salmonella typhi. Penyakit ini
jarang ditemukan secara epidemik, lebih bersifat sporadis, terpencar-pencar di
suatu daerah, dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang
serumah.Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun dan insidens
tertinggi pada daerah endemik terjadi pada anak-anak. Terdapat dua sumber
penularan S.typhi, yaitu pasien dengan demam tifoid dan lebih sering, karier.
Di daerah endemik, transmisi terjadi melalui air yang tercemar S. typhi,
sedangkan makanan yang tercemar oleh karier merupakan sumber penularan di
daerah non endemik. (Nugraheni, 2013)
Beberapa
kondisi kehidupan manusia yang sangat berperan pada penularan
demam tifoid
adalah :
1. Higiene perorangan yang rendah,
seperti budaya cuci tangan yang tidakterbiasa. Hal ini jelas pada anak-anak,
penyaji makanan serta pengasuh anak.
2. Higiene makanan dan minuman yang
rendah. Faktor ini paling berperan pada penularan tifoid. Banyak sekali contoh
untuk ini diantaranya: makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi
(seperti sayur-sayuran dan buahbuahan), sayuran yang dipupuk dengan tinja
manusia, makanan yang tercemar dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air minum
yang tidak masak, dan sebagainya.
3. Sanitasi lingkungan yang kumuh, dimana
pengelolaan air limbah, kotoran, dan sampah, yang tidak memenuhi syarat-syarat
kesehatan.
4. Penyediaan air bersih untuk warga
yang tidak memadai.
5. Jamban keluarga yang tidak
memenuhi syarat.
6. Pasien atau karier tifoid yang
tidak diobati secara sempurna.
7. Belum membudaya program imunisasi
untuk tifoid (Depkes RI, 2006: .
2.4 Konsep Terjadinya Demam Typoid
Penularan Salmonella
typhi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food
(makanan), Fingers (jaritangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan Feces.
Gejala Tifoid ditandai dengan demam, suhu badan tiba-tiba meningkat dan
menurun, sakit kepala, permukaan lidah kotor dan tebal, berwarna putih
kekuningan dengan pinggiran lidah berwarna merah disertai dengan gangguan
pencernaan berupa diare atau buang air besar sulit. (Raflizar, 2010).
Demam thypoid ini
terjadi apabila kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh, khusunya usus.
Kuman tersebut akan menembus usus dan masuk ke peredaran darah melalui aliran
limfe, selanjutnya kuman menyebar ke seluruh tubuh dalam sistem
retikuloendotelial, yaitu hati dan limpa. Kuman berkembang biak dan masuk ke
peredaran darah kembali. Kelainan yang terjadi pada thypoid pada daerah usus
ileum bagaian distal (Intan, 2015). Ada
penderita yang sudah mendapat pengobatan dan sembuh, tetapi didalam air seni
dan kotorannya masih mengandung bakteri. Penderita ini disebut sebagai pembawa
(carrier). Walaupun tidak lagi menderita penyakit tifus, orang ini masih dapat
menularkan penyakit tifus pada orang lain. Penularan dapat terjadi di mana saja
dan kapan saja, biasanya terjadi melalui konsumsi makanan dari luar, apabila
makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih (Addin, 2009).
Di
beberapa negara penularan terjadi karena mengkonsumsi kerangkerangan yang
berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayur mentah yang dipupuk dengan
kotoran manusia, susu atau produk susu yang terkontaminasi oleh carrier atau
penderita yang tidak teridentifikasi (James Chin, 2006).
Tifoid
carrier adalah seseorang yang tidak menunjukkan gejala penyakit demam tifoid,
tetapi mengandung kuman Salmonella typhosa di dalam ekskretnya.
Mengingat carrier sangat penting dalam hal penularan yang tersembunyi, maka
penemuan kasus sedini mungkin serta pengobatannya sangat penting dalam hal
menurunkan angka kematian (T.H Rampengan, 2007).
Penularan salmonella
typhi masuk kedalam tubuh melalui mulut oleh makanan yang tercemar, sebagai
kuman yang dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk ke usus halus,
kejaringan lomford dan berkembang biak, kemudian kuman masuk mencapai sel-sel
retikulum dextral melepaskan kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan
bakterinia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke jaringan beberapa
organ tubuh terutama limpa, usus dan kandung empedu pada minggu pertama sakit,
terjadi hiperplasia plaks peyer, minggu kedua terjadi penyembuhan ulkus-ulkus
yang menimbulkan sikatriks, ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi
usus, selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesenterial dan limpa membesar.
(Intan, 2015).
Menurut Kepmenkes
(2006), faktor risiko yang meningkatkan insiden terjadinya demam thypoid
adalah:
1. Higiene perorangan yang rendah, seperti budaya cuci tangan yang tidak
terbiasa pada penyaji makanan serta pengasuh anak.
2. Higiene makanan dan minuman yang rendah. Faktor ini paling berperan pada
penularan thypoid. Contohnya: makanan yang dicuci dengan air terkontaminasi
(seperti sayur-sayuran dan buah-buahan), sayuran yang dipupuk dengan tinja
manusia, makanan yang tercemar dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air minum
yang tidak dimasak, dan sebagainya.
3. Sanitasi lingkungan yang kumuh, dimana pengelolaan air limbah, kotoran dan
sampah tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan.
4. Penyediaan air bersih yang tidak memadai.
5. Jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat.
6. Pasien atau karier demam thypoid yang tidak diobati secara sempurna.
(Intan, 2015).
Patogenesis infeksi
Salmonella mencakup empat proses kompleks setelah tertelannya organisme :
1. Perlekatan dan invasi sel M dalam plak Peyeri.
2. Survival dan multiplikasi bakteri dalam makrofag plak Peyeri, kelenjar
limfe mesenterik, serta organ-organ ekstraintestinal sistem retikuloendotelial.
3. Survival bakteri dalam aliran darah.
4. Pembentukan beat-labile terhadap panas, cholera-like enterotoksin yang
meninggikan kadar cyclic adenosine monophospate (cAMP) dalam kripta usus serta
menyebabkan net efflux elektrolit dan air ke dalam lumen usus.
(Intan, 2015).
Gejala-gejala yang
timbul bervariasi, minggu pertama keluhan dan gejala serupa penyakit infeksi
akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia,
mual muntah obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan
epistaris dan peningkatan suhu tubuh. Dalam minggu kedua gejala-gejala terjadi
lebih jelas berupa demam, bradikard relatif, lidar typhoid (kotor ditengah,
tepi dan ujung merah dan tremor).
Umumnya kesadaran
pasien menurun, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma, atau
gelisah (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Di
samping gejala-gejala tersebut, mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung
dan anggota gerak dapat ditemukan reseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena
emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama
demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.
(Intan, 2015).
Gejala klinis demam
thypoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita
dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi
terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi
terjadi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala
prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
tidak bersemangat. (Intan, 2015).
Kemudian timbul gejala
klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam pada kasus-kasus yang sangat khas, demam berlangsung 3 minggu.
Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. Dalam minggu kedua,
penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan
berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan pada mulut terdapat nafas berbau tidak
sedap. Bibir kering dan pecah-pecah (regaden). Lidah ditutupi selaput putih
kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor.
Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meterorismus). Hati dan
limpa memebesar di sertai nyeri pada perabaan.Biasanya didapatkan konstipasi,
akan tetapi mungkin pada normal bahkan dapat terjadi diare.
3. Gangguan kesadaran umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak
berada dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau
gelisah
(Intan, 2015).
Prognosis (perkiraan)
menjadi kurang baik atau buruk bila terdapat gejala klinis yang berat seperti :
1. Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris kontinua.
2. Kesadaran menurun sekali yaitu sopor, koma atau delirium.
3. Terdapat komplikasi yang berat misalnya dehidrasi dan asidosis,
peritonitis, bronkopneumonia dan lain-lain.
4. Keadaan gizi penderita buruk (malnutrisi energi protein).
(Intan, 2015).
Pencegahan dapat
dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman serta upaya mengobati
carrier yang berpotensi menjadi sumber infeksi sampai sempurna. Selain itu,
pencegahan juga dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi vaksin monovalen
salmonella typhi (Widodo, 2012).
Upaya pencegahan juga
dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan, memelihara kebersihan lingkungan
serta minum air putih yang dimasak sampai mendidih. Anak dibiasakan buang air
besar ditoilet dan disetiap keluarga hendaknya mempunyai toilet
sendiri-sendiri, toilet yang baik adalah toilet yang disiram serta ditutup
sehingga tidak ada lalat serta tidak membeli makanan yang tidak ditutup atau
yang tidak bersih (Indah, 2015).
Pencegahan
untuk memperkecil kemungkinan tercemar S.typhi, maka setiap individu
harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. S.typhi
akan mati dalam air yang dipanaskan setinggi 57 0C dalam
beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi. Vaksinasi atau imunisasi,
memberikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala
terhadap penyaji makanan baik pada industri makanan maupun restoran dapat
berpengaruh terhadap penurunan angka kejadian demam tifoid.
(Ade,
2012)
Pencegahan
demam tifoid melalui gerakan nasional sangat diperlukan karena akan berdampak
besar terhadap penurunan kesakitan dan kematian akibat demam tifoid. Tindakan
preventif dan kontrol penularan kasus luar biasa (KLB) demam tifoid mencakup
banyak aspek, mulai dari segi kuman S.typhi sebagai agen penyakit dan
faktor pejamu (host) serta faktor lingkungan. (Ade, 2012)
Secara
garis besar ada tiga strategi pokok untuk memutuskan transmisi tifoid, yaitu :
a.
Identifikasi dan eradikasi S.typhi baik
pada kasus demam tifoid maupun kasus karier tifoid.
b.
Pencegahan transmisi langsung dari pasien yang
terinfeksi S.thypi akut maupun karier.
c.
Proteksi pada orang yang berisiko teinfeksi.
(Ade,
2012)
Menurut Survei Departemen Kesehatan
RI, frekeunsi kejadian demam demam thyphoid di Indonesia pada tahun 2010 Demam
Demam thyphoid merupakan permasalahan kesehatan penting di banyak negara berkembang.
Secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya.
Di Indonesia diperkirakan insiden demam demam thyphoid adalah 300-810 kasus per
100.000 penduduk pertahun, dengan angka kematian 2%. Demam demam thyphoid
merupakan salah satu dari penyakit infeksi terpenting. Berdasarkan data dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang pada tahun 2012 jumlah demam thyphoid pada
anak usia 5-9 tahun di Kabupaten Jombang sebanyak 22% anak usia 5-9 tahun,
sedangkan jumlah demam thyphoid terbanyak terdapat di Puskesmas Peterongan
Kabupaten Jombang sejumlah 14%.
(Hendri,2013)
Mengkonsumsi makanan sehat agar
meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan untuk menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya cuci tangan yang benar
dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman berupa
menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian
makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan. Kebersihan makanan dan minuman
sangat penting untuk mencegah demam tifoid. Merebus air minum sampai mendidih
dan memasak makanan sampai matang juga sangat membantu. Selain itu juga perlu
dilakukan sanitasi lingkungan termasuk membuang sampah di tempatnya dengan
baik
dan pelaksanaan program imunisasi (Widoyono, 2012)
a. Hubungan
antara Kebiasaan Mencuci Tangan Sebelum Makan dengan Kejadian Demam Tifoid
Responden yang mempunyai kebiasaan kurang baik mencuci tangan
sebelum makan 5,200 kali beresiko mendapat demam tifoid daripada responden yang
memiliki kebiasaan yang baik mencuci tangan sebelum makan. Sejalan dengan
penelitian Pramitasari (2013) dimana ada hubungan antara kebiasaan tidak
mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid. Penelitian ini
mendapati bahwa 61,9% responden yang menderita demam tifoid memiliki kebiasaan
yang kurang baik ketika mencuci tangan sebelum makan dimana mereka tidak
mencuci tangan dengan sabun dan menggosok sela-sela jari dan kuku sehingga
kuman Salmonella typhi bisa saja masih ada di bagian tersebut, ditambah
lagi sesuai hasil wawancara, mereka tidak mencuci tangan di air mengalir tetapi
di wadah/loyang. Menurut Proverawati (2012) mencuci tangan yang benar haruslah
menggunakan sabun, menggosok sela-sela jari dan kuku menggunakan air mengalir.
Menurut Rakhman, dkk (2009) mencuci tangan dengan air dan sabun dapat
melarutkan lemak dan minyak pada permukaan kulit serta menggosoknya akan
menurunkan jumlah kuman yang ada di tangan. (Seran, 2015)
b. Hubungan
antara Kebiasaan Mencuci Tangan Setelah BAB dengan Kejadian Demam Tifoid
Artanti (2012)
menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan setelah BAB
dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu Kota
semarang. Virus, kuman, atau bakteri bisa menular jika BAB benar-benar
mengandung Salmonella typhi yang hidup dan dapat bertahan, serta dalam
jumlah yang cukup untuk menginfeksi dan kuman tersebut benar-benar masuk ke
dalam tubuh (World Health Organization, 2009). Menurut asumsi peneliti,
meskipun persentase responden lebih banyak memiliki kebiasaan yang kurang baik
dalam mencuci tangan setelah BAB namun kemungkinan mereka tidak terserang demam
tifoid karena BAB mereka tidak mengandung Salmonella typhi,atau terdapat
Salmonella typhi namun sudah mati, atau terdapat Salmonella typhi yang
masih hidup namun dalam jumlah yang tidak cukup untuk menginfeksi, atau
terdapat Salmonella typhi yang masih hidup dalam jumlah yang cukup untuk
menginfeksi namun tidak benar-benar masuk dalam tubuh. (Seran, 2015)
c.
Hubungan antara Kebiasaan Mencuci Bahan Makan
Mentah Langsung Konsumsi dengan Kejadian Demam Tifoid
Responden
yang mempunyai kebiasaan kurang baik mencuci bahan makan mentah langsung
konsumsi 5,200 kali beresiko mendapat demam tifoid daripada responden yang
memiliki kebiasaan yang baik mencuci bahan makan mentah langsung konsumsi.
Penelitian Nani dan Muzakkir (2014) menunjukan ada hubungan kebiasaan makan
dengan kejadian demam tifoid. Alamsyah (2013) ada
responden yang menyatakan alasan tidak mencuci bahan makan mentah sebelum
dikonsumsi karena tampak bersih bahkan baru dibasahi oleh air hujan sehingga
tidak perlu dicuci padahal kontaminasi langsung makanan mentah dengan Salmonella
typhi dapat terjadi dari tempat hidup atau asal bahan makanan
tersebut misalnya dipupuk dengan pupuk kompos. (Seran, 2015)
d.
Hubungan antara Kebiasaan Makan di Luar Rumah
dengan Kejadian Demam Tifoid
Responden yang
mempunyai kebiasaan makan di luar rumah ≥3 kali dalam seminggu mempunyai resiko
5,000 kali lebih besar terkena demam tifoid dari responden yang tidak memiliki
kebiasaan makan di luar rumah ≥3 kali dalam seminggu. Artanti (2012) dan
Rakhman (2009) ada hubungan antara seringnya makan di luar rumah dan kebiasaan
jajan makanan di luar rumah menjadi salah satu faktor resiko kejadian demam
tifoid. Penularan demam tifoid dapat terjadi ketika seseorang makan di tempat
umum dan makanannya disajikan oleh penderita tifus laten (tersembunyi) yang
kurang menjaga kebersihan saat memasak, mengakibatkan penularkan bakteri Salmonella
thyphi pada pelanggannya (Addin, 2009 dalam Artanti, 2013). Selain itu,
(Padila, 2013) ketika makan di tempat-tempat umum biasanya terdapat lalat yang
beterbangan dimana-mana bahkan hinggap di makanan. Lalat-lalat tersebut dapat
menularkan Salmonella thyphi dengan cara lalat yang sebelumnya hinggap
di feses atau muntah penderita demam tifoid kemudian hinggap di makanan yang
akan dikonsumsi. (Seran, 2015)
2.5 Upaya Pencegahan Yang Efektif Untuk
Memberantas Penyakit Demam Typoid Di Lingkungan Masyarakat.
Pada dasarnya
ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum, yakni pencegahan penyakit
tingkat dasar, pencegahan penyakit tingkat pertama , pencegahan penyakit
tingkat kedua, serta pecegahan penyakit tingkat ketiga.
Pencegahan
tingkat dasar adalah usaha mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan
risiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum, meliputi usaha
memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau pola hidup yang sudah ada dalam
masyarakat yang dapat mencegah meningkatnya risiko terhadap penyakit dengan
melestarikan pola atau kebiasaan hidup sehat yang dapat mencegah atau
mengurangi tingkat risiko terhadap penyakit tertentu atau terhadap berbagai
penyakit secara umum. Pencegahan tingkat pertama (primery prevention) merupakan
usaha pencegahan penyakit melalui usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor
risiko, pencegahan tingkat pertama ini didasarkan pada hubungan manusia dengan
agent penyakit demam typoid (S. typhi), lingkungan dan kejadian
penyakit.Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) bertujuan mencegah
meluasnya penyakit wabah pada pennyakit menular dan menghentikan proses
penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.
Penyakit demam typoid di lingkungan
masyarakat perlu dicegah baik dari aspek lingkungan maupun diri sendiri.
Pencegahan dari aspek lingkungan dengan memperhatikan penyediaan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari
tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin.Jangan
gunakan air yang sudah tercemar.Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga
mendidih (100 derajat C). Pembuangan
kotoran manusia harus pada tempatnya dan tidak membuangnya secara sembarangan
sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi.
Menjaga kebersihan lingkungan terutama tempat tinggal, karena tempat tinggal
sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yang menempatinya.
Pencegahan dari diri sendiri
terhadap demam typoid yang terjadi dilingkungan masyarakat dengan melakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga yang dapat
mencegah kuman masuk dan berkembang biak. pencegahan terhadap kuman Salmonella
saat ini sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa
(cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Menemukan dan
mengawasi pengidap kuman (carrier).
Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang
dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
Terdapat 2
pilihan vaksin yang tersedia dalam upaya membantu menangai pencegaha penyabaran
penyakit typoid . Vaksin pertama berupa injeksi dalam satu dosis yang diberikan
sekitar 2 minggu sebelum pergi ke tempat yang berisiko tinggi terdapatnya
peyakit typoid. Pilihan yang kedua berbentuk 4 kapsul yang diminum sekali
sehari. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai pilihan vaksin yang terbaik
digunakan untuk mencegah terjadinya penularan dari lingkungan.
Negara yang
sedang berkembang termasuk Indonesia sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas
air minum yang bersih, sanitasi air, serta perawatan mdis yang memadai bagi
pasie maupun utuk pencegaha terjadinya feomena kesehatan dimasyarakat. Ketiga hal tersebut amat dibutuhkan untuk
mencegah penyakit yang menjadi penyebab fenomena kesehatan khususnya demam
tifoid. Alasan itulah yang menjadikan ahli kesehatan yakin bahwa vaksinasi
merupakan cara terbaik untuk menekan penularan demam tifoid di negara-negara
berkembang khususnya Indonesia.
Apabila pasien
sedang dalam masa pemulihan dari typoid, langkah-langkah berikut dapat membantu
supaya pasien tidak menularkan penyakit tersebut kelingkungan maupun kepada orang lain. Langkah penting ini bisa secara efektif
mencegah Anda menularkan penyakit ke orang lain. Gunakan air bersih yang
mengalir dan sabun untuk mencuci tangan secara menyeluruh selama sekurangnya 30
detik, khususnya sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Bersihkan
perlengkapan rumah tangga, termasuk toilet, gagang pintu, gagang telepon, dan
keran air setidaknya sekali sehari dengan cairan pembersih. Jangan makan
menggunakan tangan atau menyiapkan makanan bagi orang lain sampai dokter
memastikan bahwa Anda sembuh total dan tidak lagi menularkan penyakit. Pisahkan
barang-barang pribadi, misalnya handuk, seprai, dan peralatan makan yang Anda
gunakan.Cucilah benda-benda tersebut dengan air sabun yang panas.Benda yang sangat
kotor bisa direndam dulu dalam disinfektan sebelum dicuci.
Pengendalian
penularan penyakit ini banyak bergantung pada seberapa besar upaya pasien
maupun masyarakat untuk menjaga kebersihan pribadi maupun lingkugan serta makanan/minuman
yang dikonsumsi. Cuci tangan berulang kali adalah cara terbaik untuk
menghentikan penularan bakteri. Cucilah tangan secara menyeluruh dengan air
panas dan sabun, khususnya sebelum makan atau menyiapkan makanan dan setelah
menggunakan toilet. Selalu sediakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol untuk
berjaga-jaga jika air bersih tidak tersedia.Jangan minum air yang kelihatan
kotor.Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah besar di tempat-tempat
mewabahnya typid .Usahakan minum air dalam kemasan atau air minum berkarbonasi.Hindari
buah dan sayuran mentah karena bisa jadi dicuci dengan air yang
terkontaminasi.Pilih makanan yang dihidangkan panas-panas.Hindari makanan yang
disimpan atau dihidangkan pada suhu ruangan.Makanan yang dikukus panas adalah
yang teraman. Sarana lingkungan yang dapat menanggulangi penyebaran penyakit
typoid dimasyarakat yakni melalui perbaikan sanitasi air.
Sanitasi
lingkungan merupakan upaya pengendalian
semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungkinmenimbulkan atau dapat
menimbulkan hal-hal yang merugikan bagiperkembangan fisik, kesehatan, dan daya
tahan hidup manusia (Sri Winarsih, 2008).
Beberapa
masalah sanitasi air yang mempengaruhi kejadian typoid dimasyarakat meliputi sarana air bersih
dan sarana pembuangan tinja. Indonesia
yang merupakan salah satu negara berkembang setiap hari memerlukan antara 30-60
liter perhari untuk setiap orang. keperluan minum dan masak air harus mempunyai
persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003).
Dalam
dunia kesehatan khususnya kesehatan lingkungan, perhatian air dikaitkan sebagai
faktor perpindahan atau penularan penyebab penyakit. Air membawa penyebab
penyakit dari kotoran (feces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain
melalui makanan, susu dan minuman. Air juga berperan untuk membawa penyebab
penyakit infeksi yang biasanya ditularkan melalui air yaitu typus abdominalis. Manusia
menggunakan air untuk berbagai keperluan seperti mandi, cuci, kakus, produksi
pangan, papan, dan sandang. Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat dibawa oleh
air kepada manusia pada saat manusiamemanfaatkannya, maka tujuan utama
penyediaan air bersih bagi masyarakat adalah mencegah penyakit bawaan air (Juli
Soemirat, 2006).
Kebutuhan
air bersih yang berasal dari jenis sarana yang dianggap memenuhi persyaratan
antara lain melalui sistem perpipaan, mata air terlindung, sumur terlindung,
dan air hujan terlindung. Namun demikian untuk menjamin tersedianya air bersih
yang berkualitas secara berkala Departemen Kesehatan melakukan pemantauan
terhadap kualitas sampel air minum dari PDAM maupun air bersih dari jenis
sarana lainnya yang dilaksanakan secara berkala (Aliya D.R,2008).
Prinsip
penularan demam tifoid adalah melalui fekal-oral. Kuman berasal dari tinja atau
urin penderita atau bahkan carrier (pembawa penyakit yang tidak sakit) yang
masuk ke dalam tubuh melalui air dan makanan. Pemakaian air minum yang tercemar
kuman secara massal sering bertanggung jawab terhadap terjadinya Kejadian Luar
Biasa (KLB). Di daerah endemik, air yang tercemar merupakan penyebab utama
penularan penyakit demam tifoid (Widoyono, 2011).
Sarana
air bersih jika dibuat memenuhi syarat teknis kesehatan diperkirakan tidak ada
lagi pencemaran terhadap air bersih, maka kualitas air yang diperoleh menjadi
baik. Persyaratan kesehatan sarana air bersih sebagai berikut:
1) Sumur Gali
(SGL) : jarak sumur gali dari sumber pencemar minimal 11 meter, dibuat dari bahan yang kuat dan kedap air,
dibuat tutup yang mudah dibuat.
2) Sumur Pompa
Tangan (SPT) : sumur pompa berjarak minimal 11 meter dari sumber pencemar,SPAL
harus kedap air, panjang SPAL dengan sumur resapan minimal 11 meter, dudukan
pompa harus kuat.
3) Penampungan
Air Hujan (PAH) : talang air yang masuk ke bak PAH harus dipindahkan atau
dialihkan agar air hujan pada 5 menit pertama tidak masuk ke dalam bak.
4) Perlindungan
Mata Air(PMA) : sumber air harus pada mata air, lokasi harus berjarak minimal
11 meter dari sumber pencemar, atap dan bangunan rapat air serta di sekeliling
bangunan dibuat saluarn air hujan yang arahnya keluar bangunan.
5) Perpipaan :
pipa yang digunakan harus kuat tidak mudah pecah, jaringan pipa tidak boleh
terendam air kotor, bak penampungan harus rapat air dan tidak dapat dicemari
oleh sumber pencemar, pengambilan air harus memalui kran (Lud Waluyo, 2009).
Pembuatan jamban atau kakus merupakan
usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup
yang sehat.
Jamban
sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.
Tidak mencemari sumber air bersih (jarak antara sumber air bersih dengan lubang
penampungan minimal 10 meter).
2.
Tidak berbau.
3.
Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
4.
Tidak mencemari tanah disekitarnya.
5.
Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
6.
Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
7.
Penerangan dan ventilasi yang cukup.
8.
Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
9.
Tersedia air, sabun dan alat pembersih.
Perhatian harus diberikan pada upaya
pencegahan keberadaan vektor perantara penyakit demam tifoid yaitu pencegahan
perkembangbiakan lalat. Peranan lalat dalam penularan penyakit melalui tinja (fekal-borne
diseases) sangat besar dalam faktor pembuatan jamban.
Jamban
yang paling baik adalah jamban yang tinjanya segera digelontorkan ke dalam lubang
atau tangki dibawah tanah. Disamping itu, semua bagian yang terbuka ke arah
tinja, termasuk tempat duduk atau tempat jongkok, harus dijaga selalu bersih
dan tertutup bila tidak digunakan. Pengelolaan kotoran manusia yang tidak
memenuhi syarat dapat menjadi sumber penularan penyakit yang mengancam
kesehatan masyarakat banyak. Oleh karena itu kotoran manusia perlu ditangani
dengan seksama (Depkes RI, 2006).
Demam tifoid lebih banyak menyerang
penduduk dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Hal ini menunjukkan tingkat
kesehatan sebagian besar ditentukan oleh status ekonomi. Uang dapat dipakai
untuk memperoleh pelayanan kesehatan, dan perbaikan lingkungan sehingga
membantu mencegah penyakit. (Kartika NugrahinI, 2002)
Sistem pangan dalam memproduksi,
mengolah, mendistribusikan, menyiapkan, dan mengkonsumsi makanan berkaitan erat
dengan tingkat perkembangan, pendapatan dan karakteristik sosiokultur
masyarakat. Sistem pangan pada penduduk kota berpenghasilan rendah lebih
mengandalkan pada makanan jajanan siap santap dengan mutu yang rendah dan tidak
terjamin keamanannya. Pencemaran mikroba patogen pada makanan dalam kelompok
ini terutama disebabkan oleh penggunaan air yang tidak memenuhi syarat,
pembuangan sampah tidak pada tempatnya, higiene dan sanitasi yang tidak baik
dalam penyiapan makanan di rumah atau penyakit menular, dan penjualan makanan
di tempat-tempat yang kotor atau dipinggir jalan. Penyakit melalui makanan yang
sering menyerang penduduk berpenghasilan rendah pada umumnya adalah penyakit
menular seperti tifus. Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran
pencernaannya tanpa sakit, ini yang disebut dengan penderita laten. Penderita
ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke banyak orang, apalagi jika dia
bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang.
Komplikasi
seperti pendarahan pada usus dan pneumonia dapat timbul jika demam typoid tidak
segera ditangani atau diobati. Penggunaan antibiotik untuk mengobati demam
typoid adalah pilihan utama untuk digunakan namun jika disalah gunakan akan
berbahaya, pemakaian antibiotik berlebihan dapat menimbulkan banyak efek yang
seharusnya tidak terjadi dan menimbulkan penyakit pasien yang ingin disembuhkan
tidak tertangani dengan baik dan dapat meyebabkan terganggunya sistem imunitas.
Penggunaan antibiotik yang kurang
tepat dapat menyebabkan bakteri-bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik
dan juga dapat menyebabkan kontraindikasi pada pasien.(Abbas, 2011)
Antibiotik empiris yang tepat sangat
bermakna menurunkan morbiditas dan
mortalitas. Pemberian seftriakson sebagai terapi empiris pada pasien demam
tifoid secara bermakna dapat mengurangi lama
pengobatan dibandingkan dengan pemberian jangka panjang kloramfenikol.
Hal lain yang menguntungkan adalah efek
samping dan angka kekambuhan yang lebih
rendah, serta lama demam turun yang lebih cepat. Pengetahuan dan penilaian klinis yang baik
diperlukan dalam memilih terapi empiris
yang tepat terutama bila fasilitas uji
resistensi tidak memadai. (Sondang, 2010)
BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan
metode penelitian epidemiologi secara
deskriptif yang diterapkan di Rumah Sakit Umum Daerah Banjarbaru pada tanggal
30 november 2015 penulis mendapatkan data sekunder dari bidang rekam medik
tentang 5 besar jumlah penyakit pada
bulan januari sampai dengan agustus 2015 yang disebabkan oleh lingkungan serta
keterangan tentang penyebab peyakit melalui wawancara terdahap pasien.
Data mengenai 5 jenis
penyakit yang banyak dialami dan ditangani oleh pihak rumah sakit terhadap
pasien didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 3.1 5 Besar
Penyakit Yang Banyak Di Derita Pasien RSUD Banjarbaru
PENYAKIT
|
JANUARI
|
FEBRUARI
|
MARET
|
APRIL
|
MEI
|
JUNI
|
JULI
|
AGUSTUS
|
JUMLAH
|
Typoid
|
72
|
96
|
84
|
46
|
35
|
30
|
16
|
34
|
413
|
DHF
|
52
|
59
|
52
|
32
|
195
|
||||
Diare
|
30
|
36
|
83
|
149
|
|||||
Demam Dengue
|
32
|
45
|
52
|
129
|
|||||
ISPA
|
23
|
20
|
16
|
20
|
13
|
92
|
Sumber :Kasi Rekam Medik RSUD Banjarbaru, 16 November 2015
Penulis menyimpulkan bahwa
penderita penyakit typoid pada rentan waktu januari sampai dengan agustus 2015
adalah penyakit tertinggi yang banyak diderita oleh masyarakat di wilayah
sekitar kota Banjarbaru, data diatas menunjukkan bahwa penyakit typoid lebih
tinggi penderitanya dengan jumlah 413 orang dibandingkan dengan penyakit
lainnyayangdisebabkan oleh lingkungan. Setelah mendapatkan data sekunder
peyakit dari rekam medik, penulis mengadakan wawancara terhadap pasien penderita
typoid yang menjalani rawat inap di RSUD Banjarbaru dengan memberikan
pertanyaan yang berkaitan dengan epidemiologi deskriptif.
Grafik 3.1 Tingkat Penderita
Penyakit Demam Typoid Di RSUD Banjarbaru
Jumlah Pasien
|
Sumber : Kasi Rekam Medik RSUD Banjarbaru, 16 November 2015
Grafik diatas menunjukan
bahwa penderita penyakit typoid selalu ada setiap bulan dan merupakan penyakit
dengan jumlah penderita terbanyak jika di jumlahkan dibandingkan dengan
penyakit lain yang berhubungan dengan lingkungan selang waktu januari sampai
dengan agustus 2015.Pengajuan pertanyaan yang berkaitan dengan epidemiologi
deskriptif antara lain adalah :
1.
Siapa yang
terkena?
2.
Bagaimana
mulai terjadinya penyakit atau penyebab penyakit?
3.
Di mana kejadian
tersebut?
4.
Berapa jumlah orang yang terkena?
5.
Bagaimana
penyebarannya?
6.
Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena?
Setelah penulis melakukan
wawancara terhadap pasien di RSUD Banjarbaru yang bertempat di ruang camar
kelas B-1, maka hasil yang didapatkan adalah :
1.
Nama pasien : M. Ariko
Saputra.
2.
Umur pasien : 26 tahun
3.
Penyebab penyakit :
Terserang bakteri Salmonella Thyphi
4.
Asal pasien / tempat
kejadian : Kel/Desa Kait-Kait, Kecamatan Bati-bati, Pelaihari Kalsel.
5.
Jumlah pederita yang
diwawancarai : 1 orang
6.
Penyebaran penyakit :
Penyebaran peyakit dimulai dari pola makan yang tidak sehat, lingkungan tempat
pekerjaan yang kurang bersih dan menderita peyakit maag.
7.
Ciri – ciri terkena
penyakit : Naik turunnya suhu tubuh pasien, mual, pusing, dan menurunnya hemoglobin
pasien.
3.2 Pembahasan
Pada saat ini epidemiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia serta
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Epidemiologi adalah ilmu yang
mempelajari hal – hal yang berhubungan dengan masyarakat. Di dalam kesehatan
ilmu Epidemiologi sangatlah penting karena didalamnya terdapat peran dan
tindakan yang harus dilakukan untuk pencegahan masalah kesehatan tersebut.Model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga komponen
penyakit yakni manusia atau host, penyebab atau agen dan lingkungan atau
environment. Epidemiologi
lingkungan mempelajari dampak potensial dari perubahan lingkungan secara global
terhadap kesehatan masyarakat, yang di akibatkan oleh hal-hal berikut ini:
1.
Perubahan global
temperatur yag meningkat.
2.
Tipisnya lapisan ozon
karena meningkatnya gas rumah kaca.
3.
Radiasi ultraviolet
dari matahari yang mampu menembus lapisan-lapisan udara ke permukaan bumi.
4.
Presipitasi asam dari
udara ke permukaan bumi.
5.
Perubahan-perubahan
yang luas akibat dinamika kependudukan.
Masalah yang menimbulkan 5 besar jenis penyakit yang
dikeluhkan umumnya penyebaran terjadi di lingkungan berkaitan dengan air dan
lingkungan atau ketidak seimbangan antara host, agent dan environmental. Pada
umumnya masyarakat belum menyadari bahwa penularan penyakit dipegaruhi dua
faktor yakni perilaku dan kondisi lingkungan masyarakat sendiri. Masyarakat
belum mengerti akan hubungan antara kesehatan dengan perilaku dan kondisi lingkungan.
Di daerah pedesaan masih banyak masyarakat yang mempunyai perilaku buang air
besar di tempat terbuka, menggunakan air dari sarana yang tidak memenuhi syarat
kesehatan misalnya menggunakan air dari sungai untuk minum dan masak.
Untuk penyakit yang jumlahnya
paling banyak terjadi dari selang waktu januari 2015 sampai dengan agustus 2015
yakni typoid atau umumnya dikenal dengan tyfus merupakan jenis penyakit yang
berkaitan dengan demam karena adaya infeksi bakteri yang menyebar ke seluruh
tubuh dan mempengaruhi banyak organ yang bakteriya dinamakan salmonella typhi
yang umunya disebarkan melalui kotoran atau urine bahkan lingkungan yang tidak
bersih maupun perubahan kondisi lingkungan dan
dari makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau
pembawa kuman, biasanya keluar bersama-sama dengan tinja .
Penderita typoid
awalnya merasa panas tinggi yang disertai dengan kepala pusing, mual dan
menurunnya hemoglobin. Setelah beberapa hari merasakan gejala tersebut, demam
tingginya tidak hilang. Karena adanya gejala-gejala seperti diatas, maka
jelaslah pasien yang bernama bapak Ariko yang memiliki pekerjaan sebagai supir
terkena penyakit typoid yang sesuai dengan hasil data yang didapatkan dari RSUD
Banjarbaru. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa penyakit typoid ini diakibatkan
oleh adanya bakteri yang menyerang tubuh, kondisi lingkungan/sanitasi
lingkungan, dan pola hidup masyarakat yang tidak sehat.
. Hal tersebut
sesuai dengan pendapat dari Kartika
Nugrahini pada tahun 2002 bahwa demam tifoid lebih banyak menyerang penduduk
dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Hal ini menunjukkan tingkat kesehatan
sebagian besar ditentukan oleh status ekonomi.Beberapa konsep dasar
penting pemberdayaan masyarakat tentang cara pecegahan penyakit yakni sebagai
berikut :
1.
Masyarakat memahami
penyakit yang menjadi masalah
2.
Masyarakat dapat
mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit
di wilayah mereka.
3.
Masyarak memahami
bagaimana cara menghambat alur penularan penyakit.
4.
Metode PHAST
(Participatory Hygine and Sanitation Tranformation).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan mengenai pengantar epidemiologi adalah sebagai
berikut :
1.
Epidemiologi adalah ilmu yang
mempelajari hal – hal yang berhubungan dengan masyarakat. Di dalam kesehatan
ilmu Epidemiologi sangatlah penting karena didalamnya terdapat peran dan
tindakan yang harus dilakukan untuk pencegahan masalah kesehatan tersebut.
2.
Epidemiologi
mempelajari bagaimana timbulnya suatu penyakit atau feomena kesehatan yang
terjadi di suatu lingkungan masyarakat, selanjutnya diperlukan data-data yang
menjadi penyebab maupun faktor timbulnya fenomena yang terjadi di masyarakat.
3.
Typoid merupakan jenis
penyakit yang berkaitan dengan demam karena adaya infeksi bakteri yang menyebar
ke seluruh tubuh dan mempengaruhi banyak organ yang bakteriya dinamakan
salmonella typhi.
4.
Demam Typoid terjadi
terjadi apabila kuman Salmonella Typhi masuk kedalam tubuh khususnya usus.
Kuman tersebut akan menembus usus dan masuk keperedaran darah melalui aliran
limfe, selanjutnya kuman menyebar ke seluruh tubuh dalam sistem
retikuloendotelial, yaitu hati dan limpa.
5.
Upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan menjaga kesehatan, memelihara kebersihan lingkungan,
minum air putih yang dimasak sampai mendidih dan melakukan vaksinasi untuk
mencegah terinfeksi kuman Salmonella Typhi.
4.2 Saran
Agar
tidak terjadi ketidakseimbangan diantara enviromental, host dan agent yang dapat menimbulkan terjadiya suatu peyakit maka masyarakat diharapkan untuk
selalu menjaga keseimbangan antara ketiga unsur tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
A.L. Slamet Ryadi dan T.
Wijayanti.2011. Dasar-Dasar Epidemiologi. Jakarta : Salemba Medika
Afni,Nur.
Epidemiologi Penderita Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan. 2011http://jurnalunismuhpalu.org/index.php/PJK/article/view/42/42 (online). Diakses pada tanggal 30 November
Bhisma Murti .2003. Prinsip dan Metode Riset
Epidemiologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Budiarto, Eko SKM dan Dr. Dewi
Anggraeni.2002. Pengantar Epidemiologi Edisi . Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran.
Bustan Dan Drg. A. Arsunan,
M.Kes.2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Effendi, Ferry. 2009. Keperawatan
Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Effendy, Nasrul.1988. Dasar – Dasar
Keperawatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
Fahmi, Umar. 2010. Manajemen
Penyakit Bebasis Wilayah. http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/view/217/217 (Online) Diakses pada tanggal 24 Desember 2015
Dr. Widoyono.2011. Penyakit Tropis
Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan Pemberantasan. Jakarta : Erlangga
Husada, Dian. 2015.Pengantar
Kesehatan Masyarakat.
http://boyan.com/p/proses-terjadinya-penyakit.html?m (Online). Diakses pada tanggal 1 November 2015
Husin,Muhammad.2013.Pengantar
Epidemiologi.
http://www.slideshare.net/sarianadowanx/pengantar-epidemiologi (Online). Diakses pada 30 November 2015.
Indah, Ilfa Istya.2015. Asuhan Kebida
Asuhan Kebidanan Pada Balita Sakit Dengan Demam Tifoid Di RSU Dr. Wahidin
Sudiro Husodo Kota Mojokerto.
Http://Repository.Poltekkesmajapahit.Ac.Id/Index.Php/Pubkeb/Article/View/396/310(Online). Diakses 5 Desember 2015
Nugraheni, Sri Wahyuningsih, Diah Ariani
Dan Yasinta Ruslinawati. 2013. Tinjauan Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Pasien
Rawat Inap Penyakit Typhoid Fever Di
RSUD Banyudono Boyolali Tahun 2012. Vol. III No. 3
Putra, Ade .2012.
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Demam Tifoid Terhadap Kebiasaan
Jajan Anak Sekolah Dasar.Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Raflizar, Maria Holly Herawati. 2010.
Hubungan Faktor Determinan Dengan Kejadian Tifoid Dipulau Jawa. Badan
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Rl. Vol. 9 No 4
Rifa`I, Abbas. 2011. Evaluasi Penggunaan Antibiotik
Terhadap Pasien Anak Penderita Demam Tifoid Di Rumah Sakit Wijayakusuma
Purwokerto . Purwokerto : Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Rustam, Muh Zul Azhri. 2012. Hubungan
Karakteristik Penderita Dengan Kejadian Demam Tifoid Pada Pasien Rawat Inap Di
RSUD Salewangan Maros.Surabaya : Universitas Airlangga Surabaya.
Seran, Eunike Risani,
Henry Palandeng Dan Vandry D. Kallo.2015. Hubungan Personal Hygiene Dengan
Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Tumaratas. Manado : Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Setyaningrum, Intan Giovani.2015. Asuhan
Kebidanan Pada Balita Umur 2,5 Tahun Dengan Demam Typhoid Di RSUD Sukoharjo.
Fakultas Kedokteran Uns
Sidabutar, Sondang. 2010. Pilihan Terapi Empiris Demam Tifoid pada Anak : Kloramfenikol atau Seftriakson?. Jakarta :Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Wahyudin
Rajab.2009.Buku Ajar Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : ECG.
Widodo, Agus. 2012. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Dengan Upaya Pencegahan Kekambuhan Demam Tifoid Pada Penderita
Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiyoso Karanganyar. Surakarta : Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Widoyono. 2012. Penyakit
Tropis Epidemiologi,Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta
: Erlangga.
Wahyu,Nurvina. 2012. Hubungan Antara
Sanitasi Lingkungan, Higiene Perorangan, Dan Karakteristik Individu Dengan
Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang.
Semarang : Universitas Negeri Semarang
1.
Epidemiologi jika ditinjau dari berbagai aspek
berdasarkan tujuannya memiliki pengertian sebagai berikut, yaitu. kecuali … (E)
a.
Aspek Akademik
b.
Aspek Praktis
c.
Aspek Klinis
d.
Aspek Administratif
e.
Aspek Teknologi
2.
Cuaca atau
iklim, radiasi, dan penerangan serta kondisi ergonomi merupakan faktor
dari?..(A)
a.
Faktor Fisik
b.
Faktor Kimiawi
c.
Faktor Biologi
d.
Faktor Psikososial
e.
Faktor Mikrobiologi
3.
Variabel Epidemiologi dikelompokkan menurut
orang (person) tempat (place) dan waktu (time). Tempat atau place
meliputi pengetahuan distribusi geografis suatu penyakit yang berguna untuk ... (D)
a. mengetahui perbedaan sifat/karakteristik individu secara tidak
langsung yang dapat memberikan perbedaan sifat/keterpaparan.
b. mengetahui Perubahan
pola penyakit karena usaha pencegahan dan penanggulangan serta perubahan
lainnya dari waktu ke waktu.
c. Perubahan
komposisi lingkungan menurut waktu (lingk. Fisik, biologi dan sosial ekonomi).
d.
perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan etologi
penyakit.
e.
menerangkan frekuensi, penyebaran atau yang menerangkan penyebab dari suatu
masalah kesehatan.
4.
Pada
epidemiologi selain membutuhkan ilmu kedokteran juga membutuhkan disiplin ilmu
lain, seperti … (B)
a.
Matematika ,
Geografi dan Geologi
b.
Ekonomi ,
Budaya dan Statistika
c.
Antropologi ,
sosiologi dan sejarah
d.
Sejarah ,
Budaya dan Matematika
e.
Lingkungan
fisik , statistik dan Sejarah
5.
Demam tifoid
merupakan penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh..(B)
a.
Lactobacillus sp.
b. Salmonella typhi.
c. Rhizopus sp.
d. Escherichia Coli
e. Aspergillus
oryzae
INDEKS
A
Administratif 5,41
Agen 5,12,13,20,23,31,33
Akademik 5
Analitik 6,7,8,9,
auxilliary disciplines 6
B
Biostatistik 12
bradikard relatif 18
bronkopneumonia 19
C
Cariier 13
Case Control 7,9
Chotipa 24
Communicable Disease Cotrole 6
D
Degenaratif 10
Dehidrasi 19
Demos 4
Delirium 19
Deskriptif 1,2,3,6,7,8,9,10,29,30
Disease 6,27
Determinan 1,8,10,35
E
Edukasi 10
Endemisitas 7
Epistaksis 19
Etiologis 11
Environment 5
Evaluation 14
F
Fisiologi 13
Fomite 13
G
Geologi 41
Geografi 11
Gordon 5,6
H
Hipertensi 11
Hiperpireksia 19
Hemofilia 11
Herediter 11
Higiene 16,18,21,28
Host 5,12,13,20,31
I
Infeksi 1,4,6,10,16,18,19,20,22,31
Inferensial 7
Insidensi 5,14
Instabilities 14
Intervensi 9,10
Industrialisasi 4
K
Karsinoma paru-paru 11
Klorinasi 20
Kohort 7,9
Kontinua 19
Korelasi 7
L
Logos 4
M
major disciplies 6
mal-adjusment 14
Mobilitas11
Monitoring 14
monovalen salmonella typhi 20
Morbidilitas 6
Mortalitas 6,7
P
peritonitis19,41
Place 7,11,12
Planning 14
prevalensi 5,9
psikososial 14
Public Health 4
R
Retrospektif 9
S
Salmonella typhosa 4,17
screening test 7
sickle
cell 11
T
Time 7,11
thypus
abdominalis 4
toksin 5,18
U
Urbanisasi 16
V
Vektor 13,14,27

Komentar
Posting Komentar